Jakarta-lintassulawesinews.com-Pelaku pasar bersiap menghadapi pengumuman hasil review indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan hari ini di tengah kekhawatiran potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global tersebut.
MSCI akan mengumumkan hasil tinjauan terhadap sejumlah indeks global, mulai dari MSCI Global Standard Indexes, MSCI Global Small Cap, MSCI Micro Cap Indexes, hingga MSCI Frontier Markets Small Cap Indexes. Sementara implementasi rebalancing akan efektif pada 29 Mei 2026.
Menjelang pengumuman tersebut, regulator hingga pelaku pasar kompak menilai reformasi pasar modal Indonesia memang berpotensi memicu tekanan jangka pendek, namun diyakini akan berdampak positif dalam jangka panjang.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pengumuman MSCI, sembari menegaskan langkah reformasi pasar modal yang dilakukan regulator merupakan bagian dari upaya memperkuat integritas pasar.
“Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain,” ujar Friderica di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5/2026).
Ia mengakui MSCI sebelumnya telah melakukan freeze sehingga peluang masuknya saham baru ke indeks relatif terbatas, sementara saham-saham lama berpotensi mengalami penyesuaian.
OJK juga berharap Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori emerging market pada review MSCI berikutnya di Juni 2026, di tengah isu potensi penurunan status menjadi frontier market.

Menurut Friderica, kualitas keterbukaan informasi dan integritas pasar modal Indonesia terus mengalami perbaikan dan menjadi salah satu yang terbaik secara regional.
Senada dengan OJK, Bursa Efek Indonesia juga mengakui adanya potensi penurunan bobot Indonesia di MSCI dalam jangka pendek apabila tidak ada saham baru yang masuk indeks.
PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan langkah reformasi yang dilakukan BEI memang sejalan dengan pendekatan MSCI terhadap saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholder concentration (HSC).
Sebelumnya, BEI telah mengeluarkan sejumlah saham kategori HSC dari indeks IDX80, LQ45, dan IDX30.
“Kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, dalam jangka pendek mungkin saja bobot Indonesia turun. Tetapi itu adalah short term pain untuk long term gain,” ujar Jeffrey.
BEI menegaskan reformasi pasar modal akan terus dilanjutkan, termasuk mendorong peningkatan free float emiten agar memenuhi standar global.
MSCI sebelumnya memang menyoroti sejumlah aspek reformasi pasar modal Indonesia, mulai dari peningkatan free float minimum menjadi 15%, transparansi data pemegang saham di atas 1%, hingga peningkatan kualitas tata kelola pasar.(dikutip CNBC Indonesia)
Mul