Palu—lintasaulawesinews.com-Kakanwil Kemenag kementrian Agama Sulawesi Tengah Juaidin menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta tidak boleh hanya menjadi konsep dalam pembelajaran, tetapi harus tumbuh menjadi budaya dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Sekolah dan madrasah juga harus menjadi ruang yang menanamkan kasih sayang, kepedulian, toleransi, penghormatan, serta pembentukan karakter peserta didik.
“Kurikulum Berbasis Cinta harus menjadi budaya pendidikan. Anak-anak tidak hanya membutuhkan ilmu pengetahuan, tetapi juga keteladanan, perhatian dan lingkungan belajar yang membuat mereka merasa dihargai,” tegasnya.
Ia menilai guru memiliki peran penting dalam mewujudkan pendekatan tersebut. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan figur yang memberikan contoh dalam membangun sikap saling menghormati dan menyelesaikan perbedaan secara bijaksana.
Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta juga diharapkan mampu menciptakan suasana pendidikan yang lebih humanis. Peserta didik didorong untuk memiliki kepedulian terhadap sesama, lingkungan, bangsa, dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Pendidikan harus melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter. Karena itu, cinta harus hadir dalam proses pendidikan, bukan sekadar menjadi slogan,” ujarnya.
Kemenag Sulteng berharap seluruh satuan pendidikan dapat mengimplementasikan semangat Kurikulum Berbasis Cinta secara konsisten. Dengan demikian, pendidikan di Indonesia tidak hanya menghasilkan generasi unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak, empati dan kepedulian sosial.
Mul